blog rsud sragen

menjalin silaturahim online

Dirgahayu Hari Jadi Kabupaten Sragen ke 264

Bismillahirrahmanirrahim,
Dirgahayu Hari Jadi Kabupaten Sragen ke 264. Mari bersama merapatkan shaft..!! mewujudkan Sragen Kabupaten Cerdas dan Berbudaya. Insyaallah

SEJARAH PEMERINTAHAN
Hari Jadi Kabupaten Sragen ditetapkan dengan Perda Nomor: 4 Tahun 1987, yaitu pada hari Selasa Pon tanggal 27 Mei 1746. Tanggal dan waktu tersebut adalah dari hasil penelitian serta kajian pada fakta sejarah, ketika Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono yang ke- I menancapkan tonggak pertama melakukan perlawanan terhadap Belanda menuju bangsa yang berdaulat dengan membentuk suatu Pemerintahan lokal di Desa Pandak, Karangnongko masuk tlatah Sukowati sebelah timur.

KRONOLOGI DAN PROSESI
Pangeran Mangkubumi adik dari Sunan Pakubuwono II di Mataram sangat membenci Kolonialis Belanda. Apalagi setelah Belanda banyak mengintervensi Mataram sebagai Pemerintahan yang berdaulat. Oleh karena itu dengan tekad yang menyala bangsawan muda tersebut lolos dari istana dan menyatakan perang dengan Belanda. Sering kita kenal dengan Perang Mangkubumen (1746-1757). Dalam perjalanan perangnya Pangeran Muda bersama pasukannya dari Keraton bergerak melewati Desa-desa Cemara, Tingkir, Wonosari, Karangsari, Ngerang, Butuh, Guyang. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Pandak, Karangnongko masuk tlatah Sukowati. Di Desa ini Pangeran Mangkubumi membentuk Pemerintahan Pemberontak. Desa Pandak, Karangnongko di jadikan pusat Pemerintahan Projo Sukowati, dan Beliau meresmikan namanya menjadi Pangeran Sukowati serta mengangkat pula beberapa pejabat Pemerintahan.

Karena secara geografis terletak di tepi Jalan Lintas Tentara Kompeni Surakarta–Madiun, pusat Pemerintahan tersebut dianggap kurang aman, kemudian sejak tahun 1746 dipindahkan ke Desa Gebang yang terletak disebelah tenggara Desa Pandak Karangnongko. Sejak itu Pangeran Sukowati memperluas daerah kekuasaannya meliputi Desa Krikilan, Pakis, Jati, Prampalan, Mojoroto, Celep, Jurangjero, Grompol, Kaliwuluh, Jumbleng, Lajersari dan beberapa desa Lain. Pangeran Sukowati menugaskan Panembahan Puger untuk bergerak ke Utara Bengawan Solo, yaitu: Lawang, Suatu, Sukodono, Gesi, Jenar, Wirosari, Selo, Teras, Karas, Glagah, Gawan, Galongan, dan lain-lain. Pusat pemerintahan Projo Sukowati di desa Gebang yang semakin kuat, tercium oleh Kompeni Belanda yang bekerjasama dengan Kasunanan akan mengadakan penyerangan ke Desa Gebang, rencana tersebut diketahui petugas “Telik Sandi” dari Pangeran Sukowati. Selama tiga hari pertempuran hebat terjadi, pasukan dari Pangeran Sukowati memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang. Dengan berbagai pertimbangan dan untuk menjauhkan diri dari Kasunanan maka pusat pemerintahan akan dipindahkan ke Desa Jekawal, Tangen.

Dalam proses boyongan dari Gebang ke Jekawal tersebut, melewati Padepokan Kyai Srenggi. Pada saat Pangeran Sukowati singgah di Padepokan tersebut, Kyai Srenggi menjamu atau menyuguhi LEGEN dan POLOWIJO. Setelah Pangeran Sukowati dan pasukannya merasa sangat puas, beliau berkata bahwa tempat tersebut diberi nama “SRAGEN” dari kata “PASRAH LEGEN”. Dengan daerah kekuasaan serta pasukan yang semakin besar Pangeran Sukowati terus menerus melakukan perlawanaan kepada Kompeni Belanda bahu membahu dengan saudaranya Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyowo), KRT Martapura atau Adipati Grobogan, dan kerabat yang bersimpati dengan perjuangan Pangeran Sukowati, yang berakhir dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755, yang terkenal dengan Perjanjian Palihan Negari, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, dimana Pangeran Sukowati menjadi Sultan Hamengku Buwono ke-1 dan perjanjian Salatiga tahun 1757, dimana Raden Mas Said ditetapkan menjadi Adipati Mangkunegara I dengan mendapatkan separuh wilayah Kasunanan Surakarta. Selanjutnya pada tanggal 27 September 1830 terjadilah Perjanjian antara Paku Buwono VII dengan Hamengku Buwono V dan akhirnya daerah Sukowati masuk wilayah Kasunanan Surakarta. Dalam suatu Pisowanan Agung di Keraton Kasunanan Surakarta KRT Kartowiryo dapat menyerahkan pusaka-pusaka keraton yang hilang saat perang Pecinan di Kartosuro. Karena sangat bergembira mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang sudah lama hilang dan sebagai penghargaan atas jasa KRT Kartowiryo, maka sejak saat itu daerah Sukowati di serahkan kepada KRT Kartowiryo sebagai daerah “Perdikan” (Daerah Bebas Pajak). Selanjutnya sejak tanggal 12 Oktober 1840 dengan Surat Keputusan Sunan Paku Buwono VII yaitu serat Angger – angger Gunung, daerah yang lokasinya strategis ditunjuk menjadi Pos Tundan, yaitu tempat untuk menjaga ketertiban dan keamanan Lalu Lintas Barang dan surat serta perbaikan jalan dan jembatan, termasuk salah satunya adalah Pos Tundan Sragen.

Perkembangan selanjutnya sejak tanggal 5 Juni 1847 oleh Sunan Paku Buwono VIII dengan persetujuan Residen Surakarta Baron dee Geer ditambah kekuasaan yaitu melakukan tugas kepolisian dan karenanya disebut Kabupaten Gunung Pulisi Sragen. Kemudian berdasarkan Staatsblaad No 32 Tahun 1854, maka disetiap Kabupaten Gunung Pulisi dibentuk Pengadilan Kabupaten, dimana Bupati Polisi menjadi Ketua dan dibantu oleh Kliwon, Panewu, Rangga dan Kaum. Sejak tahun 1869, daerah Kabupaten Pulisi Sragen memiliki 4 ( empat ) Distrik, yaitu Distrik Sragen, Distrik Grompol, Distrik Sambungmacan dan Distrik Majenang. Selanjutnya sejak Sunan Paku Buwono VIII dan seterusnya diadakan reformasi terus menerus dibidang Pemerintahan, dimana pada akhirnya Kabupaten Gunung Polisi Sragen disempurnakan menjadi Kabupaten Pangreh Praja. Perubahan ini ditetapkan pada jaman Pemerintahan Paku Buwono X, Rijkblaad No. 23 Tahun 1918, dimana Kabupaten Pangreh Praja sebagai Daerah Otonom yang melaksanakan kekuasaan hukum dan Pemerintahan. Dan Akhirnya memasuki Zaman Kemerdekaan Pemerintah Republik Indonesia, Kabupaten Pangreh Praja Sragen menjadi Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen.

YANG MENJABAT BUPATI SRAGEN

  1. KRT Sastrodipuro Periode Tahun 1884–1861
  2. KRT Wiryodiprodjo (Cucu KRT Kartowiryo) Periode Tahun 1861–1903
  3. KRMT Panji Sumonegoro (Cucu KRT Wiryodiprodjo) Periode Tahun 1903–1933
  4. KRMAA Yudonegoro Periode Tahun 1933–1939
  5. KRMT MR Wongsonagoro Periode Tahun 1939–1944
  6. KRMT Darmonagoro Periode Tahun 1944–1946
  7. KRMT Panji Mangunagoro Periode Tahun 1946–1950
  8. R Soeprato Periode Tahun 1950–1959
  9. M Mustadjab Periode Tahun 1959–1967
  10. Suwarno Djoyomardowo, SH Periode Tahun 1967–1973
  11. Sri Nardi Periode Tahun 1973–1974
  12. Ymt Drs, Hartono Periode Tahun 1974–1975
  13. Sayid Abas Periode Tahun 1975–1980
  14. Suryanto PA Periode Tahun 1980–1990 ( Dua Periode selama 10 tahun )
  15. R Bawono Periode Tahun 1990 2000 ( Dua Periode selama 10 tahun )
  16. Plh Ir. Sudjadi (Pembantu Gubernur Surakarta) Periode Tahun 2000–2001
  17. H. Untung Wiyono Sukarno dan Wakil Agus F Periode Tahun 2001–201 ( Dua Periode selama 10 tahun )

Nah kemudian, pertanyaannya adalah: Apa yang kita dapatkan dari refleksi perjalanan ini.. jiaah kayak Lagunya Om Ebiet, perjalanan ini.. khususnya saya sebagai anak muda. Ada satu tulisan dari Bapak Rhenald Kasali, Ketua Program MM Universitas Indonesia Dalam Harian Seputar Indonesia, Kamis 13 Mei 2010, Halaman VIII Kolom 6-7.

“..Hari-hari ini saya membaca demo-demo besar tengah bergerak ke tempat kediaman resmi para Bupati yang melakukan perubahan. Di Jawa Tengah, Selasa lalu (11/5), ratusan pengunjuk rasa berdemo menuntut Bupati Sragen Untung Wiyono, mundur dari jabatannya. Hal serupa juga terjadi di kota-kota lain. Apakah hal-hal seperti ini juga akan dialami para achieverperubahan lain yang kita banggakan dan hasilnya mulai kelihatan hari ini? Ada rasa was-was, jangan-jangan nanti hal serupa juga akan dialami Wali Kota Solo (Joko Widodo/ Jokowi), Wali Kota Yogyakarta (Herry Zudianto), Bupati Bantul (Idham Samawi), atau Wali Kota Palembang (Eddy Santana Putra). Mereka semua adalah orang-orang yang cinta negeri ini dan telah menunjukkan hasil perubahan yang nyata dan pasti. Mereka mengambil risiko. Kalau dicari-cari, tentu mereka tidak luput dari kesalahan. Namanya juga manusia, mereka pasti tidak sebersih malaikat. Saya pun menyarankan agar para pembuat perubahan, para anggota parlemen, atau siapa saja yang biasa berkomentar tentang langkah-langkah yang dihadapi para change agents agar membaca ini. Saya kira, inilah saatnya bagi kita untuk berhenti menertawakan, menjebak dan mengadili sesuka hati terhadap tokoh-tokoh yang berkorban untuk memperbaiki negeri ini. Mari gunakan akal sehat dan lebih bijak melihat sebelum krisis kedua menghantam kita. Hukum perubahan mengatakan; kalau perubahan terus dihambat, alam semesta akan mengirim bantuan dalam bentuk krisis.

Wallahu’alam Bishawab

Filed under: Catatan Kecil Dulkumat, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pesan Layanan Masyarakat

RSS detik.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: